Boyolali — Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Sekolah Vokasi, Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Manufaktur, melaksanakan pelatihan operasional teknis mesin filling adonan roti untuk mendukung proses produksi bolu kukus pada UMKM roti di Boyolali. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 3 Juli 2026, di tempat produksi UMKM milik Supriyanto dan istrinya, Warti.
Kegiatan pengabdian ini diketuai oleh Eki Rovianto, S.T., M.T. Pelatihan turut melibatkan mahasiswa D3 Teknik Mesin yang berperan membantu proses pendampingan teknis, praktik penggunaan alat, serta asistensi kepada pihak UMKM selama kegiatan berlangsung.
Pelatihan ini berfokus pada penerapan teknologi mesin filling adonan roti untuk meningkatkan efisiensi produksi dan standardisasi kualitas produk. Mesin filling digunakan untuk membantu proses pengisian adonan bolu kukus ke dalam cetakan agar volume adonan lebih seragam, proses kerja lebih cepat, dan hasil produksi lebih konsisten dibandingkan pengisian secara manual.

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdian memberikan penjelasan mengenai bagian-bagian utama mesin filling, prinsip kerja alat, tahapan pengoperasian, pengaturan keluaran adonan, serta prosedur pembersihan dan perawatan dasar. Peserta juga mendapatkan pendampingan langsung dalam proses uji coba pengisian adonan menggunakan mesin, sehingga pihak UMKM dapat memahami cara penggunaan alat secara praktis sesuai kebutuhan produksi harian.
Ketua tim pengabdian, Eki Rovianto, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penerapan teknologi tepat guna yang diarahkan untuk membantu menyelesaikan permasalahan nyata di sektor UMKM, khususnya pada proses produksi makanan skala rumah tangga dan usaha kecil.
“Mesin filling ini diharapkan dapat membantu UMKM dalam mempercepat proses pengisian adonan, menjaga keseragaman volume, serta mengurangi ketergantungan pada proses manual yang membutuhkan waktu lebih lama,” jelas Eki.
Menurut Eki, pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berhenti pada pemberian alat, tetapi juga harus disertai dengan pelatihan dan pendampingan. Hal ini penting agar teknologi yang diberikan benar-benar dapat digunakan, dirawat, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh pelaku UMKM.
“Pelatihan operasional menjadi bagian penting karena pengguna harus memahami cara kerja alat, cara membersihkan, serta cara menjaga performa mesin agar tetap layak digunakan dalam proses produksi,” tambahnya.
Pemilik UMKM, Supriyanto, bersama istrinya, Warti, mengikuti proses pelatihan secara langsung. Keduanya mendapatkan kesempatan untuk mencoba penggunaan mesin filling dalam proses pengisian adonan bolu kukus. Melalui pelatihan ini, pihak UMKM diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseragaman ukuran produk yang dihasilkan.

Sebelum adanya penerapan mesin filling, proses pengisian adonan bolu kukus dilakukan secara manual. Cara tersebut memiliki beberapa keterbatasan, di antaranya membutuhkan waktu lebih lama, memerlukan ketelitian tinggi, dan berpotensi menghasilkan volume adonan yang tidak seragam. Dengan adanya mesin filling, proses pengisian dapat dilakukan secara lebih terkontrol sehingga membantu standardisasi kualitas produk.
Keterlibatan mahasiswa D3 Teknik Mesin dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran berbasis praktik. Mahasiswa tidak hanya melihat penerapan teknologi di lapangan, tetapi juga ikut memahami kebutuhan pengguna, kondisi produksi UMKM, serta tantangan implementasi alat di lingkungan kerja nyata.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu keteknikan, khususnya pada aspek perancangan, pengoperasian, dan pendampingan penggunaan mesin sederhana untuk kebutuhan produksi. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui penerapan hasil keilmuan yang aplikatif.
Program pengabdian ini sejalan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, kegiatan ini mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pelibatan mahasiswa dalam pembelajaran langsung di masyarakat. Kedua, kegiatan ini mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi karena berorientasi pada peningkatan produktivitas dan kapasitas produksi UMKM. Selain itu, penerapan mesin filling sebagai teknologi tepat guna juga relevan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Kegiatan ini juga berpotensi mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab karena penggunaan mesin filling dapat membantu proses produksi menjadi lebih terukur, terutama dalam pengaturan volume adonan. Dengan pengisian yang lebih seragam, penggunaan bahan baku dapat dikendalikan dengan lebih baik dan potensi pemborosan bahan dapat ditekan.
Dokumentasi kegiatan menunjukkan proses pelatihan berlangsung secara langsung di area produksi UMKM. Tim pengabdian, mahasiswa, serta pemilik UMKM melakukan praktik penggunaan mesin filling pada adonan bolu kukus. Selain itu, kegiatan juga ditutup dengan dokumentasi bersama sebagai bentuk kolaborasi antara UNS, mahasiswa, dan pelaku UMKM.

Melalui pelatihan ini, Universitas Sebelas Maret, Sekolah Vokasi, Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Manufaktur, berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna bagi masyarakat. Kegiatan pengabdian semacam ini diharapkan dapat membantu UMKM meningkatkan efisiensi produksi, menjaga kualitas produk, dan memperkuat daya saing usaha lokal di Boyolali.


