Booth Container Inovatif Dukung Pemasaran MPASI di Desa Pandes untuk Cegah Stunting

#PengabdianMasyarakat

Klaten, 10 Juli 2025 – Sebagai upaya nyata mendukung program nasional pencegahan stunting, tim pengabdian masyarakat dari universitas yang dipimpin oleh Dr. Ir. Eko Prasetya Budiana, S.T., M.T. melaksanakan kegiatan bertajuk “Pembuatan Booth Container untuk Mendukung Pemasaran Makanan Pendamping ASI (MPASI)” di Komunitas Sweet Baby, Pokja 4 TP PKK, Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat berbasis pemberdayaan dan teknologi tepat guna. Fokus utamanya adalah memberikan solusi konkret dalam bentuk sarana pemasaran yang layak dan menarik bagi produk MPASI buatan lokal, yang telah dikembangkan oleh para ibu kader dan komunitas setempat sebagai bagian dari intervensi gizi untuk bayi dan balita.

Stunting Masih Jadi Tantangan

Masalah stunting masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di wilayah Kabupaten Klaten. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, prevalensi balita stunting di beberapa desa di Klaten, termasuk Desa Pandes, masih berada di atas angka nasional. Komunitas Sweet Baby, yang berada di bawah koordinasi Pokja 4 TP PKK Desa Pandes, selama ini aktif dalam pembuatan dan edukasi MPASI sehat berbasis bahan lokal. Namun, keterbatasan sarana promosi dan pemasaran menjadi kendala utama dalam memperluas jangkauan dan keberlanjutan program.

Booth Container Multifungsi

Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat merancang dan membangun booth container multifungsi sebagai sarana pemasaran yang mobile, menarik, dan higienis. Booth ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan MPASI, namun juga menjadi pusat informasi dan edukasi gizi untuk masyarakat sekitar. Dalam sambutannya, Dr. Eko Prasetya Budiana menjelaskan bahwa pendekatan teknologi tepat guna ini dirancang untuk menjawab kebutuhan lapangan secara langsung.

“Kami tidak hanya memberikan alat, tetapi juga pengetahuan dan pendampingan. Booth container ini kami desain agar dapat digunakan untuk jangka panjang, dengan memperhatikan aspek ergonomi, estetika, dan fungsi edukasi,” ungkapnya.

Sinergi Multistakeholder

Kegiatan ini didukung oleh lintas sektor, termasuk pemerintah desa, Puskesmas setempat, dan kelompok PKK. Selama proses pelaksanaan, tim pengabdian juga mengadakan pelatihan manajemen pemasaran sederhana, standar sanitasi pengolahan MPASI, serta penguatan branding komunitas Sweet Baby. Kegiatan ini didukung oleh lintas sektor, termasuk pemerintah desa, Puskesmas setempat, dan kelompok PKK. Selama proses pelaksanaan, tim pengabdian juga mengadakan pelatihan manajemen pemasaran sederhana, standar sanitasi pengolahan MPASI, serta penguatan branding komunitas Sweet Baby.

“Kami merasa terbantu sekali. Ini bukan hanya soal booth, tapi semangatnya – bahwa kader dan ibu-ibu kami merasa didukung untuk terus berinovasi dan menjaga kesehatan anak-anak di desa,” ujarnya.

Dengan adanya booth container ini, komunitas Sweet Baby kini memiliki sarana yang representatif untuk memasarkan produk MPASI ke khalayak lebih luas, termasuk saat pasar desa, acara posyandu, dan event kecamatan. Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat wirausaha sosial di kalangan ibu-ibu rumah tangga. Produk MPASI yang sebelumnya hanya dibagikan di tingkat posyandu kini sudah mulai dilirik sebagai produk unggulan desa berbasis gizi. Tim pengabdian merencanakan keberlanjutan kegiatan ini melalui pemantauan periodik, pelaporan pertumbuhan usaha komunitas, dan potensi replikasi model booth ke desa lain. Selain itu, akan dilakukan integrasi digital berupa pelatihan pemasaran berbasis media sosial dan QR code untuk pelabelan produk.

Dr. Eko menekankan pentingnya kolaborasi dan keberlanjutan:

“Pengabdian ini tidak berhenti pada pembangunan booth. Kami berharap inisiatif ini menjadi awal dari gerakan bersama untuk mencetak generasi sehat dan kuat, dimulai dari desa,” pungkasnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menciptakan solusi riil dan berdampak. Semoga upaya ini mampu menjadi role model dalam mendukung program pencegahan stunting secara partisipatif dan inovatif.


Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait

Berita Terbaru